Siapa Dulu “Sih” Elo?!

Oktober 4th, 2008 by thomthebigbear

Kalo kita orang bisnis dan merasa penting…pasti kita punya setidaknya 2 nomer hp…private number alias primary number dan publish number alias secondary number..

Jelas private number untuk kalangan tertentu, misal keluarga dan relasi bisnis..dan publish number adalah nomer buat orang-orang yang sekiranya biasa saja..

Dulu daku berpikir..hak daku dunk kalo mo kase nomer yang private atau pun yang publish..

Namun..daku lupa..gimana perasaan orang yang daku kasih secondary number dan dia tahu bahwa daku punya primary number..pasti bakal bertanya, knapa saya tidak dikase tau nomer telpun yang satunya? apakah daku tiada penting bagi dia?

Akhirnya, dari 1 pertanyaan ini, daku berpikir…lebih baek daku punya 1 nomer untuk semua…karena semua orang adalah sama buat daku..entah itu pak tukang sapu di pagi hari atau pun mentri…

Kala Puasa Jadi Euforia Sesaat

September 9th, 2008 by thomthebigbear

Yang pasti….nanti kita buka pake apa yah? Nanti kita sahur pake apa yah?Eh, besok sebelum Lebaran jadi belanja baju koko sama mukena gak?

Itu masih normal..masih wajar..

Tapi…selama bulan puasa, semua pedagang makanan dan minuman gak boleh buka di siang hari..cafe dan tempat hiburan malam ditutup biar puasa afdol..

Dan kalau masih menentang, jangan harap tempatnya masih selamat hingga bulan puasa lewat.

Dulu bangettt…gak pernah ada tuh macem ginian..tapi begitu keluar FPI, MMI, FBR, dan konco2nya..semuanya jadi berubah.

Bulan puasa bukan bulan penuh nikmat untuk merefleksikan diri, namun menjadi bulan horor karena kalo ngeyel bakal kena pentung..

Selamat berpuasa sodara-sodariku.. :)

Ayo…Kita Bisa!!!

Agustus 29th, 2008 by thomthebigbear

Kita kadang ngomong…wah bakso A itu pake dukun dari daerah C, makanya laris…Tau gak, artis anu itu pake susuk loh…Eh..eh…inget gak kalo pak D yang punya usaha furniture itu punya pesugihan loh.. Itu kebanyakan diomongin orang kalau melihat kesuksesan orang lain.

Berani enggak kita mencoba untuk bisa lebih dari sekarang? berani enggak kita seperti Tukul Arwana atau Inul Daratista? berani memperjuangkan untuk kehidupan yang layak dengan jerih payah sendiri?

Kita cuman hanya jadi penonton tapi tidak mau bertindak. Kita ngomong batik dan wayang adalah budaya kita, tapi kapan kita mau melestarikannya? Ketika Malaysia klaim batik dan wayang, baru kita ribut-ribut. Kita juga berasa hebat dan wah kalo dah makan di Mc.D tapi ketika tempe kita dipatenkan oleh Jepang dalam sistem pembuatan dan peragiannya, kita pada complain juga.

Ayo..kita harus berani mencoba..harus berani mengatakan BISA!!

Korban Politik Penjajah Belanda untuk WNI

Agustus 19th, 2008 by thomthebigbear

Sering sekali kita menjumpai ketidaksukaan kita terhadap etnis tertentu, disini kecenderungannya adalah etnis Chinese dan etnis Pribumi.

Daku mengatakan etnis Chinese dan etnis Pribumi karena sejak jaman penjajahan Belanda, etnis Chinese lebih sebagai etnis yang “dipaksakan” untuk menduduki peringkat kasta yang lebih tinggi daripada etnis Pribumi.

Politik ini digunakan untuk mengamankan posisi Belanda yang harus berhadapan langsung dengan orang-orang Pribumi, sehingga posisi etnis Chinese tidak begitu menguntungkan karena seperti ada di tengah arena….mau lari ke depan masuk ke mulut singa, mau lari ke samping masuk ke mulut buaya.

Dan politik ini berhasil sekali, hingga saat ini orang-orang Pribumi lebih membenci etnis Chinese daripada bangsa penjajah yang notabene adalah Belanda dan Jepang (walau pun Inggris, Portugis, dan beberapa negara Sekutu juga ikut serta di dalamnya).

Ada sebagian besar orang Pribumi mengatakan,”Jangan sama orang Chinese, tar jadi pelit dan mata jadi sipit!” Ada pula sebagian besar orang Chinese mengatakan,” Jangan sama orang Pribumi, mereka lebih rendah dari kita dan kita nanti yang diperas sama mereka!”

Hanya dari 2 statement diatas, terjadilah peristiwa Mangkok Merah di Kal Bar, Peristiwa Mei 98 di Jakarta dan Solo, Peristiwa Malari di Jakarta, dll.

Bagi daku, entah itu Chinese, entah itu Arab, entah itu Jawa, entah itu Aceh…kita sama-sama orang Indonesia. Kenapa kita tidak mau bersatu?